athiverse

Abang

“BANG RENJA!!!!”

“BANG LIHAT KITA BAWA APA!!”

Jevana dan lainnya hanya tertawa melihat betapa hebohnya Candra dan Zefa yang berebut menghampiri Renjana sambil membawa medali serta piala. kini makam Renjana terlihat ramai karena orang tua mereka semua ikut berziarah ke makam seorang pemuda yang begitu disayang oleh anak-anak mereka. katanya, bang Renja itu malaikatnya kita.

“Hai bang,” ujar Nanda seraya berjongkok lalu mengusap nisan Renjana yang sudah diganti menjadi sebuah granit hitam dengan ukiran nama Renjana yang berwarna emas terlihat begitu cantik.

“Lihat nih, janji kita buat serius belajar akhirnya membuahkan hasil.” Marvel hanya diam mendengarkan monolog Nanda. ia ingin bicara juga namun ia tahu nanti suasana senang akan berubah menjadi sendu. yah, walau sebenarnya perihal Renjana akan selalu membuat hati mereka lemah.

“Coba lo di sini bang, pasti kita langsung pergi buat makan es durian yang lo pengenin itu, yang di deket pasar,” tambah Hasan yang ikut berjongkok di samping Nanda. “nanti kita beli sampe gerobak-gerobaknya, yang bayar bang Marvel hahaha.”

“Bang Renja tadi dateng ya ke perlombaan?” tanya Zefa. “tadi aku ngerasa ada abang kayak bisikin aku, Zefa jangan takut, ada abang disini. makasih ya abang, kalau abang nggak bilang gitu mungkin Zefa akan gemeteran sama kayak pertama kali Zefa nginjakin kaki di asrama. kalau nggak ada abang yang sapa dan nenangin Zefa saat itu, mungkin Zefa nggak akan seberani sekarang.”

“Bang, kok belum dateng ke mimpi aku sih?” timpal Candra. “aku kangen loh di peluk abang. nanti malem dateng ya! kasih aku selamat dong, curang masa aku doang yang ngasih abang selamat.”

“Bang… ah gue mau ngomong tapi semua yang mau gue omongin ke lo udah di ucapin semua sama para bocah ini,” ujar Jevana pura-pura kesal seraya meletakan sebuket bunga melati putih di atas makam Renjana.

“Bang Marvel nggak mau ngomong gitu sama bang Renja?” tanya Candra tiba-tiba. membuat Marvel yang sedari tadi melamun tersentak kaget, lalu menggeleng. “Udah kok.”

“Lah, kapan? perasaan tadi diem aja.” lalu Marvel mengangkat tangannya mengarahkan ke arah dada. “di sini, di dalam hati. biar lo semua nggak denger,” ucapnya dengan seringai senyuman jenaka, membuat Candra sedikit kesal melihatnya. “Curang!”

“Bodo, wle.” semua tertawa bersama. suasana ceria kembali bangkit dibuatnya. semuanya lalu terdiam, saling mengirim doa untuk pemuda yang kini tengah terlelap di bawah sana.

Setelah doa selesai. mereka kembali menegakkan kepala. menatap sekali lagi makam yang kini penuh dengan bunga. harum. “Bang udah sore, kita pulang dulu ya?”

“Abang ikut aja yuk kita pulang bareng-bareng.”

“Hari ini, hari terakhir kita di asrama loh bang… pasti aku bakal kangen banget.”

“Besok kita udah pisah lagi bang, cepet banget ya masa. nggak sadar.”

“Ja, balik dulu ya. semoga lo bahagia juga hari ini. soalnya kita semua hari ini bahagia banget.”

“Dadah abang!” ujar Candra di akhir sebelum mereka benar-benar pergi dari makam Renjana. mungkin bisa jadi ini terakhir mereka bercengkrama seperti tadi. mungkin setelah ini mereka akan sibuk untuk urusan masing-masing. mungkin juga ini terakhir kalinya mereka berjumpa.

Karena tugas mereka sudah dinyatakan selesai hari ini.

Abang

“BANG RENJA!!!!”

“BANG LIHAT KITA BAWA APA!!”

Jevana dan lainnya hanya tertawa melihat betapa hebohnya Candra dan Zefa yang berebut menghampiri Renjana sambil membawa medali serta piala. kini makam Renjana terlihat ramai karena orang tua mereka semua ikut berziarah ke makam seorang pemuda yang begitu disayang oleh anak-anak mereka. katanya, bang Renja itu malaikatnya kita

“Hai bang,” ujar Nanda seraya berjongkok lalu mengusap nisan Renjana yang sudah diganti menjadi sebuah batu hitam dengan ukiran nama Renjana yang berwarna emas terlihat begitu cantik.

“Lihat nih, janji kita buat serius belajar akhirnya membuahkan hasil.” Marvel hanya diam mendengarkan monolog Nanda. ia ingin bicara juga namun ia tahu nanti suasana senang akan berubah menjadi sendu. yah, walau sebenarnya perihal Renjana akan selalu membuat hati mereka lemah.

“Coba lo disini bang, pasti kita langsung pergi buat makan es durian yang lo pengenin itu, yang di deket pasar,” tambah Hasan yang ikut berjongkok di samping Nanda. “nanti kita beli sampe gerobak-gerobaknya, yang bayar bang Marvel hahaha.”

“Bang Renja tadi dateng ya ke perlombaan?” tanya Zefa. “tadi aku ngerasa ada abang kayak bisikin aku, Zefa jangan takut, ada abang disini. makasih ya abang, kalau abang nggak bilang gitu mungkin Zefa akan gemeteran sama kayak pertama kali Zefa nginjakin kaki di asrama. kalau nggak ada abang yang sapa dan nenangin Zefa saat itu, mungkin Zefa nggak akan seberani sekarang.”

“Bang, kok belum dateng ke mimpi aku sih?” timpal Candra. “aku kangen loh di peluk abang. nanti malem dateng ya! kasih aku selamat dong, curang masa aku doang yang ngasih abang selamat.”

“Bang… ah gue mau ngomong tapi semua yang mau gue omongin ke lo udah di ucapin semua sama para bocah ini,” ujar Jevana pura-pura kesal seraya meletakan sebuket bunga melati putih diatas makam Renjana.

“Bang Marvel nggak mau ngomong gitu sama bang Renja?” tanya Candra tiba-tiba. membuat Marvel yang sedari tadi melamun tersentak kaget, lalu menggeleng. “Udah kok.”

“Lah, kapan? perasaan tadi diem aja.” lalu Marvel mengangkat tangannya mengarahkan ke arah dada. “disini, di dalam hati. biar lo semua nggak denger,” ucapnya dengan seringai senyuman jenaka, membuat Candra sedikit kesal melihatnya. “Curang!”

“Bodo, wle.” semua tertawa bersama. suasana ceria kembali bangkit dibuatnya. semuanya lalu terdiam, saling mengirim doa untuk pemuda yang kini tengah terlelap di bawah sana.

Setelah doa selesai. mereka kembali menegakkan kepala. menatap sekali lagi makam yang kini penuh dengan bunga. harum. “Bang udah sore, kita pulang dulu ya?”

“Abang ikut aja yuk kita pulang bareng-bareng.”

“Hari ini, hari terakhir kita di asrama loh bang… pasti aku bakal kangen banget.”

“Besok kita udah pisah lagi bang, cepet banget ya masa. nggak sadar.” “Ja, balik dulu ya. semoga lo bahagia juga hari ini. soalnya kita semua hari ini bahagia banget.”

“Dadah abang!” ujar Candra di akhir sebelum mereka benar-benar pergi dari makam Renjana. mungkin bisa jadi ini terakhir mereka bercengkrama seperti tadi. mungkin setelah ini mereka akan sibuk untuk urusan masing-masing. mungkin ini terakhir kalinya mereka berjumpa.

Tugas mereka sudah dinyatakan selesai hari ini.

Perpisahan

“Zefa!!!!” teriak Hasan saat melihat sosok yang tidak asing baginya sedang duduk bersama perempuan yang pasti adalah ibu dari Zefa. Zefa menoleh, wajah terkejutnya tidak bisa disembunyikan lagi. dengan cepat ia segera berlari menghampiri kelima abangnya.

“Loh abang dateng ke sini?!” tanyanya kaget. “Surprise!!!” teriak mereka bersamaan. Zefa tertawa lalu memeluk Marvel yang sudah membentangkan tangannya.

“Dateng dongg, masa adek abang yang paling lucu ini mau pergi jauh terus lama lagi, abang nggak anter?” Zefa tertawa lalu mengangguk. “Soalnya kemarin nggak ada yang balas pesan Zefa, jadi Zefa kira abang belum pada baca. by the way nggak lama kok, cuma tiga tahun aja.”

“Itu lama ya bocah!” protes Hasan yang segera memeluk Zefa tanda perpisahan. “kalau masalah nggak jawab di grup, maaf ya? abang shock aja bacanya terus langsung mikir gimana caranya harus ketemu Zefa sebelum Zefa pergi jauh.” Zefa tersenyum lalu mengangguk, kemudian mengeratkan pelukannya pada Hasan.

Setelah mereka bergantian memberi pelukan, setelahnya pula pengumuman bahwa pesawat Zefa akan segera berangkat, membuat percakapan mereka terpaksa selesai lebih cepat dari perkiraan.

“Buat kenang-kenangan. kalau kangen kita dan kalau kita nggak bisa di telepon. Zefa curhat ke dia aja. dia itu pendengar yang baik loh,” ujar Nanda memberi sebuah kotak yang entah isinya apa. Zefa mengangguk air matanya sudah keluar lagi.

“Makasih abang, Zefa berangkat dulu ya!”

“Dadah sayang! sampai jumpa tiga tahun lagi!!”

Zefa mengangguk seraya menghapus air matanya. “Dadah!!”

Ketika pelangi yang sesungguhnya datang

“BANG MARVEL!”

Marvel menoleh. suara itu, tatapan itu, tawa itu. ia sangat rindu. mereka semua berlari menghantam tubuh yang paling tua dengan cepat, membuat Marvel hampir saja terhuyung ke belakang.

“Gue kangen banget please sama lo,” ujar Jevana.

“Bang Marvel… Zefa juga kangen banget.”

“Ajakin band lo buat live music di cafe gue dong bang,” timpal Nanda setelahnya

Etdah ini kenapa sesek banget sih. badan lo semua kenapa jadi gede-gede banget!” omel Hasan yang tubuhnya kini terjepit diantara Jevana juga Nanda.

“Ngaca dong anjir!” ujar Jevana sedikit menoyor kepala Hasan pelan. Marvel tertawa melihatnya dengan posisi ia masih memeluk erat Candra karena anak itu juga enggan melepas pelukannya. jujur, ia sangat rindu suasana ini. suasana yang mungkin nggak akan ia dapatkan dari orang lain.

“Yah, asramanya di tutup ya…” ujar Nanda sembari membaca sebuah tulisan besar di pintu. Marvel mengangguk. “Iya, padahal tadinya gue mau masuk, mau nostalgia. haha.”

“Yaudah nggak apa-apa. kita masih bisa keliling asrama dari luar aja kan?” ucap Jevana berniat menghibur.

Sekarang, mereka tengah berkeliling mengamati setiap detail bangunan serta halaman asrama. ada yang telah berubah, ada yang masih sama seperti dulu. contohnya area taman yang menjadi saksi bisu tawa yang mereka ciptakan satu sama lain. “Nggak berubah ya, haha. masih sama.”

“Pohon mangganya masih ada!” pekik Candra.

“Ih tambah besar,” balas Zefa.

“Ya iyalah, masa kecil terus,” timpal Hasan.

Setelah puas berkeliling sekarang perut mereka meronta minta di isi ulang. “Makan apa ya?” tanya Nanda yang kini mengambil alih kemudi. membiarkan Marvel untuk duduk di sampingnya.

“Soto aja yuk! kangen sotonya Pak Haji gua,” seru Hasan cepat yang langsung disetujui oleh mereka semua. “Okay! meluncur!”


Kini mereka sudah berada di kedai soto langganan mereka dahulu. tempatnya sudah lebih besar serta bagus dari sebelumnya. tapi yang membuat mereka kaget, Pak Haji pemilik kedai soto itu masih mengenal mereka. bahkan ia sempat tersentak kaget melihat mereka datang kembali ke kedai miliknya.

“Ya Allah mas, kemana aja sih, bapak tungguin nggak pernah dateng lagi,” tanya Pak Haji yang tiba-tiba ikut bergabung di meja mereka sembari mengantar soto pesanan. mereka semua tertawa. “Pulang pak ke Jakarta. kita kan dulu cuma siswa karantina yang tinggal di gedung Panca itu.”

Sepertinya mereka memang belum pernah memberitahu Pak Haji kalau mereka di sini hanya sebagai seorang tamu, bukan warga asli. karena wajah kaget Pak Haji jelas sekali kentara. “Bapak baru tahu loh, pantas saja. sejak bubaran itu nggak pernah liat kalian lagi,” jawabnya. “Loh tunggu, si mas yang kecil itu kemana? kok nggak ikut? biasanya dia selalu minta buat nggak dipakein toge. baru sadar bapak dia nggak ada.”

Lidah mereka mendadak kelu. tapi sebisa mungkin mereka menyembunyikannya lalu kembali tersenyum. “Orangnya udah nggak ada pak,” jawab Marvel pelan. Pak Haji mengerutkan alisnya tidak paham. “Maksudnya?”

“Udah meninggal.”

“Innalillahi.” Dapat mereka lihat jelas bahwa Pak Haji sangat terkejut mendapat kabar tentang Renjana. “kapan?”

“Lima tahun yang lalu, kira-kira seminggu sebelum bubaran.”

“Ya Allah… umur nggak ada yang tahu ya,” ujarnya lirih seraya menghela nafasnya. “Yaudah dimakan sotonya, maaf ya bapak jadi bikin suasana jadi sedih gini.”

Mereka sontak menggeleng. “Nggak pak, kita semua udah ikhlas kok. Renja juga udah bahagia di sana. masa kita nggak bahagia juga?” tukas Marvel. Pak Haji mengangguk lalu berpamitan pergi untuk kembali melayani pembeli lainnya.


Keenam pemuda itu kini tengah berjalan-jalan menghabiskan waktu mengelilingi kota Bandung. dengan radio dari mobil Marvel sebagai teman perjalanan mereka walau sebenarnya tidak didengarkan juga, karena mereka lebih memilih saling bertukar cerita perjalanan mereka hingga matahari hendak pergi untuk bergantian dengan bulan.

“Mau langsung pulang apa gimana nih? kalian kesini naik apa deh?” tanya Marvel.

“Bang serius mau pulang?” tanya Hasan yang tiba-tiba kepalanya ia majukan hingga tepat di samping Marvel. “Sanaan anjir, jangan deket-deket,” ucap Marvel.

“Emang mau kemana lagi? udah mau gelap ini, besok juga kan senin.”

“Kita belum ketemu bang Renja, bang Marvel,” jelas Zefa yang duduk paling belakang. sontak Marvel terdiam. bagaimana bisa ia melupakan Renjana. ia membuang nafasnya sedikit kasar. “Maaf… gue lupa.”

Nanda tersenyum. “Nggak apa lah bang, namanya juga manusia.” Mobil segera Nanda arahkan sebuah tempat yang sudah lima tahun tidak mereka kunjungi. jujur, padatnya sekolah serta pekerjaan mereka membuat mereka tidak sempat lagi mendatangi makam Renjana. kecuali Nanda. setiap hari raya pasti ia, Darma dan Naura selalu pergi bertemu Renjana.

Mobil sudah terparkir rapi pada parkiran. mereka segera turun lalu membeli tiga bungkus bunga serta air mawar untuk Renjana. berjalan perlahan memasuki area pemakaman. “Halo abang….” sapa Candra pelan. ukiran nama Renjana masih terlihat cantik di sana. tidak pudar sedikit pun. diusapnya perlahan lalu memori kenangan tentang Renjana kembali berputar pada masing-masing kotak memori mereka.

Tawa Renjana, marah Renjana, tangis Renjana, sakit Renjana. semua kembali mereka lihat dengan jelas. tanpa sadar mereka kembali menangis. jangka waktu lima tahun atau bahkan selamanya tidak akan mampu menghapus seberapa pentingnya sosok Arshaka Renjana di hidup mereka.

“Abang, gimana kabarnya?” tanya Jevana sembari menabur bunga di atas makam Renjana. “gue sekarang lagi magang di kantor bokap loh bang, keren kan?”

“Gue juga lagi magang loh bang, terus juga lagi sibuk skripsian juga,” timpal Hasan. “kalo lo masih di sini, mungkin lo udah kerja kali ya bang? lo mau jadi apa sih? lo belum pernah bilang ke kita-kita cita-cita lo apa. yang selalu lo bilang, lo cuma mau liat kita sukses aja. apa emang lo udah tahu ya kalo lo mau pergi? makanya lo nggak pernah bilang buat kita sukses sama-sama.”

Zefa segera memeluk Hasan yang berada di sampingnya. “Abang jangan gini dong!” Hasan terkekeh melihat Zefa yang sudah menangis. “Lihat nih bang, adek kesayangan lo udah gede banget masa. tinggi banget dia kek tiang, calon dokter juga nih, bangga nggak lo?” ujar Hasan lagi dengan sedikit bergetar sambil menepuk-nepuk bahu Zefa yang masih memeluknya.

“Bang Renja, tau nggak kalau bang Marvel udah jadi musisi terkenal loh yang lagunya udah diputar dimana-mana. keren banget tau dia bang sekarang,” curhat Candra kemudian, sambil merapikan bunga-bunga yang tadi di tabur oleh Jevana.

“Dan Ja lo juga harus tau kalau Candra jadi anak arsi sekarang,” timpal Marvel yang tangannya sudah menepuk-nepuk bahu Candra. “keren.” Candra hanya tertawa lalu mengangguk-angguk.

“Nanda lo nggak cerita apa gitu?” tanya Hasan menoleh ke arah Nanda yang diam sambil membersihkan nisan Renjana. “Nggak, udah sering gue,” jawabnya.

“Curang banget.” Nanda tertawa lalu menatap Hasan yang wajahnya terlihat kesal. “Makanya jangan sibuk-sibuk,” sindir Nanda.

“Emang sibukkk,” jawab Hasan tidak mau kalah.

“Terus aja lo pada, masa ketemu bang Renja lo malah berantem. udah gede juga,” sindir Jevana yang sedari tadi menyimak. lantas semuanya tertawa menanggapi keributan kecil itu, sembari menikmati matahari yang perlahan pergi karena tugasnya hari ini sudah selesai.

Perasaan hangat seketika kembali menjalar, seakan kenangan lama itu kembali ke permukaan. seperti kembali menemukan rumah yang pernah hilang karena pemiliknya memilih pergi sebentar untuk menggapai mimpi masing-masing. dan sekarang pemiliknya sudah kembali. walau tak sepenuhnya utuh, tapi rumah yang mereka bangun akan selamanya ada. tidak akan hancur ataupun hilang lagi. karena sedari awal pondasi yang digunakan begitu kuat, kokoh dan tidak akan pernah hancur karena diciptakan oleh ketulusan.

Pondasi itu namanya, kasih sayang.

Mereka terlalu asik bercengkrama hingga tidak sadar, bahwa sosok yang sedang mereka rindukan, kini tengah menatap mereka dengan senyum andalannya. Arshaka Renjana hari ini juga hadir, menjadi saksi bisu perbincangan hangat kakak dan adik-adiknya.

D-DAY

Hari yang ditunggu semua peserta olimpiade matematika sedari dua bulan yang lalu akhirnya tiba. semua peserta sudah memasuki sebuah aula besar yang sudah berisi meja-meja yang akan mereka tempati nantinya.

“Bang… gua deg-degan banget sumpah,” ujar Hasan yang kini mengeratkan genggamannya pada lengan Marvel yang kini berada di sampingnya. “Tenang aja San, jangan dibawa stress.”

“Padahal tadi di asrama aku pede banget, kenapa sekarang ciut banget…,” lirih Candra yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru aula. melihat satu persatu manusia yang akan menjadi lawannya hari ini. “Hus, jangan ngomong gitu. harus pede dong!” bisik Nanda tepat di telinga Candra seraya membuat gerakan tangan mengepal lalu mengangkatnya ke atas yang sukses membuat Candra terkekeh kecil lalu mengangguk.

“Perhatian untuk seluruh peserta, harap segera duduk dengan posisi yang sudah disediakan oleh panitia. diharapkan tenang saat ketua pelaksana memberikan kata sambutan sebagai pembukaan acara pagi hari ini.” Ucapan pembawa acara barusan seketika menginterupsi seluruh peserta sehingga suara riuh yang tadi tercipta hilang seketika.

Tak lama ketua pelaksana memberikan salam pembuka serta kata-kata semangat untuk para peserta. tak perlu waktu lama juri pada olimpiade kali ini sudah memasuki aula setelah kata penyambutan selesai diberikan.

Suasana berubah menjadi lebih mencekam dari sebelumnya. berulang kali Zefa menarik nafasnya seakan oksigen di ruangan ini sangat terbatas. “Jangan gugup Zef,” ucap Jevana. “kita hadapi bareng-bareng.”

Peraturan kali ini akan ada dua putaran untuk penyeleksian peserta yang akan lolos ke tahap final yang dimana di kedua putaran tersebut diberikan soal tertulis dengan jumlah yang berbeda di setiap putaran. “Untuk putaran pertama, akan dikeluarkan lima belas kelompok. dan untuk putaran kedua, akan dikeluarkan empat belas kelompok dengan nilai terendah di setiap putarannya. lima kelompok yang bertahan akan masuk ke babak final.” terang salah satu juri perempuan yang duduk di tengah. “paham semua?”

Sontak seluruh peserta menjawab dengan kompak dan semangat yang membara. piala besar yang sekarang berada di samping juri sangat membangkitkan jiwa kompetitif para peserta.

Putaran pertama dimulai dengan suara dentuman gong besar yang entah berada dimana namun suaranya sangat terdengar jelas. para panitia dengan cepat membagikan soal-soal yang akan menjadi penentu utama siapa yang akan bertahan untuk putaran selanjutnya.

“Ingat ya jangan gegabah, jangan panik, nanti semua yang udah kalian pelajari akan buyar. semua kerjain yang mudah dulu,” titah Marvel saat melihat wajah tegang kelima temannya itu. “Iya abang siap!” jawab Candra dengan tangan diletakan di ujung alis tanda hormat kepada Marvel yang dibalas acungan ibu jari.

Suara kertas yang dibolak balik menjadi satu-satunya suara yang menemani kegiatan mereka sekarang. seratus soal untuk tujuh orang memang terlihat sedikit. namun soal yang menjebak adalah tantangan yang sesungguhnya. ditambah dengan waktu yang terus berjalan.

“Gila susah banget,” keluh Hasan saat kerta soal mereka baru saja diambil oleh panitia untuk dikoreksi. “Namanya juga lomba, kalo mau gampang mah lo kerjain aja soal anak sd kelas satu San,” jawab Jevana yang kini tengah memijat pelipisnya pelan.

“Aku deg-degan banget abang,” ucap Candra pada Nanda. “Jangan dipikirin, tenang aja ya? yang penting udah usaha.”

Lima belas menit berlalu dan hasil sudah berada ditangan juri. suasana yang tadi sudah lebih bersahabat kini kembali menegangkan. rapalan-rapalan doa peserta lain terdengar memenuhi indra pendengaran Hasan membuatnya semakin gugup.

Satu persatu perwakilan provinsi yang lolos disebutkan membuat nafas enam pria yang kini saling berpegangan tangan di bawah meja ikut tertahan menunggu nama provinsi mereka disebut. “Jakarta. Selamat kalian lolos ke babak berikutnya.”

Jangan tanya bagaimana lega dan hebohnya mereka mendengar kalau mereka lolos ke babak selanjutnya karena Candra dan Hasan langsung berdiri dan bertos ria tanpa tahu tempat dan keadaan yang akhirnya semua perhatian tertuju semua kepada mereka.

Ditambah hebohnya Biantara, ayah Jevana yang benar-benar membawa pasukan untuk menyemangati putra sulungnya itu.


Babak kedua dimulai dengan keadaan lebih sepi dari sebelumnya, karena hampir separuh kelompok sudah gugur. namun rasa tegang yang mereka hadapi tak pernah berkurang sedikit pun. malah semakin bertambah rasanya.

“Kakiku tiba-tiba lemes banget masa…” ujar Zefa dengan wajah polosnya, membuat Jevana yang dari tadi diam terkekeh melihatnya. “Woi ilah, santai aja, kalau gugup nanti kayak yang bang Marvel bilang, malah nggak fokus. ayo tarik nafasnya terus buang pelan-pelan.” Zefa mengangguk lalu menjalankan instruksi yang diarahkan Jevana barusan.

Suara gong kedua terdengar. panitia kembali membagikan soal berikutnya. dan yang membuat mereka terkejut jumlah soal yang diberikan bertambah hingga lima puluh soal. dengan cepat Marvel membagi soal demi soal untuk mereka kerjakan.

“Pelan-pelan, inget. konsentrasi. ini penentuan,” ujar Marvel tegas. mereka semua mengangguk paham menanggapinya.

Hasan merasakan kebas di tangannya. membuat jantungnya berdetak lebih cepat karena ia tidak bisa menyia-nyiakan waktu yang ada hanya untuk menghilangkan kebas yang ia rasakan sekarang. “Jangan panik Hasan,” ucap Marvel yang menyadari gerak-gerik Hasan tanpa melihat ke arah lelaki itu.

Soal kedua selesai setelah dua jam pengerjaan. kembali menunggu lima belas menit untuk pengumuman dengan wajah tegangnya masing-masing. sedang Hasan kini ia hanya bisa pasrah karena konsentrasinya tadi sempat buyar di beberapa soal.

Nanda menoleh mendengar Jevana menghela nafasnya sedikit kasar terlihat jelas sekali lelaki itu tengah gugup. dengan sedikit tertawa Nanda menepuk pelan bahu Jevana. “Lo dari tadi bilang ke Hasan sama Zefa jangan gugup, jangan takut. tapi lo sendiri juga sama aja. emang bener ya, paling gampang tuh ngasih tau orang tapi nggak pernah di praktekin ke diri sendiri.” Jevana hanya melengos mendengar penuturan panjang Nanda yang membuat lelaki itu semakin tertawa dibuatnya. “Tenang aja, pasti lolos.”

“Yakin banget.”

“Harus yakin. kalau bukan kita yang yakin siapa lagi?” Jevana akhirnya mengangguk, lalu ia kembali menegakkan tubuhnya untuk menatap lurus ke depan. menunggu pengumuman juri selanjutnya.

Sorak sorai dari Hasan, Marvel serta Candra menggema setelah mengetahui bahwa mereka lolos ke tahap final. suara bertambah riuh saat grup marching band yang diundang secara khusus oleh Biantara mulai memainkan alat musiknya.

Jevana, lelaki itu akhirnya bisa bernafas lega walau sebenarnya ia tengah malu setengah mati melihat tingkah gila ayahnya itu.


“Abang ini finalnya kayak gimana…” tanya Zefa pelan. kini hanya tertinggal lima kelompok yang berada di tengah aula. kelompok yang telah gugur sudah berpindah ke tempat penonton. menonton pertandingan terakhir. “Abang juga nggak tahu,” jawab Marvel.

Suara pembawa acara yang memberitahu bahwa babak final akan segera dimulai membuat semua peserta segera mempersiapkan diri.

pembawa acara berjalan ke arah tengah dengan gagah. “Oke akhirnya kita sudah berada di saat yang sangat ditunggu-tunggu. babak final!” Suara tepuk tangan riuh saling bersahutan memenuhi aula sekarang. membuat peserta yang kini akan kembali berjuang tersenyum melihatnya dan tidak sedikit ada yang ikut bertepuk tangan heboh.

“Oke, semua tenang dulu,” ucap pembawa acara kembali. “kali ini, peraturannya berbeda dengan dua babak sebelumnya. untuk babak final kita akan menggunakan sistem cerdas cermat, siapa cepat dia dapat. jadi siapa yang akan menjawab duluan adalah yang menekan bel terlebih dahulu. dan poin setiap soal adalah dua. kalian sudah mengerti dengan penjelasan saya barusan?” Anggukan para peserta berikan sebagai jawaban.

Suara gong kembali terdengar yang berarti babak penentuan akan segera dimulai. panitia sudah siap memberikan soal yang akan ditanyakan. terdapat tiga puluh soal esai. sebuah bel juga sudah diletakkan di masing-masing meja. siap menjadi alat tempur babak ini.

Soal pertama diberikan. sahutan demi sahutan bel menggema. detak jantung para peserta semakin berdetak cepat. soal demi soal benar-benar terjawab dengan cepat hanya hitungan detik bel berbunyi setelah panitia selesai membacakan soalnya. decakan kesal pun tak lepas dari gabungan suara ricuh tersebut.

Pertandingan berjalan menegangkan selisih yang terlampau kecil membuat mereka berlomba memperjauh jarak. saling memutar otak agar pertanyaan bisa terjawab lebih cepat dari kapasitas masing-masing. hingga tak terasa tersisa dua kelompok dengan nilai seri.

Hasan merenggut rambutnya sedikit keras. tangannya kembali kebas akibat kecepatannya hitungnya bertambah tiga kali lipat dari biasanya. “Gila, sengit banget!” ucapnya frustasi.

Jevana tertawa seraya mengetuk-ngetuk pulpennya ke meja, menatap sengit lawan terakhir mereka. tinggal satu langkah lagi mereka bisa mendapat gelar juara. satu langkah lagi mereka bisa membuat bangga keluarga. satu langkah lagi perjuangan mereka akan selesai dengan juara pertama.

“Semuanya harap didengar baik-baik. tekan bel setelah soal selesai ya.” semuanya mengangguk paham. tangan mereka sudah siap di atas kertas dengan pulpen yang juga sudah siap bergerak cepat.

“Diketahui a plus dua b sama dengan satu, b plus dua c sama dengan dua, dan b tidak sama dengan nol. jika a plus nb plus dua ribu delapan belas c sama dengan dua ribu sembilan belas, maka nilai n adalah.”

tet–

Itu suara bel dari kelompok lawan. Jevana yang baru saja ingin menekan memekik cukup kencang karena kalah cepat. mereka berenam begitu gugup mendengar jawaban dari kelompok lawan.

“Ya. berapa jawabannya?”

“Seribu sepuluh,” jawab salah satu anggota kelompok berkacamata itu dengan lantang yang sukses membuat senyum Jevana serta Marvel mengembang. “Oke, jawaban kita kunci.”

“Silahkan untuk para dewan juri apakah seribu sepuluh adalah jawaban yang tepat?” tanya pembawa acara dengan intonasi yang sangat mempermainkan perasaan mereka. takut, senang, semuanya campur aduk menjadi satu.

“Salah,” jawab juri laki-laki bertubuh besar dengan gelengan kepala.

“Sayang sekali. maka dari itu pertanyaan saya lempar untuk tim Jakarta.”

Dengan lantang Jevana berdiri, mengambil microphone yang tergeletak di atas meja dengan begitu yakin. “Jadi jawaban dari tim Jakarta?” tanya pembawa acara.

“Seribu sebelas,” jawab Jevana lantang. kini hanya suaranya berhasil meredam sel